Bagian 1 : Badainya Sama. Mengapa Hasilnya Berbeda?

Sep 27, 2026 · @DR. Eddy Keleng Ate Berutu
Bayangkan dua kapal kargo berlayar di laut yang sama, dihantam badai yang sama, pada malam yang sama. Keesokan paginya, satu kapal karam. Yang lain tiba di pelabuhan, bahkan lebih cepat dari jadwal.
Badainya tidak memilih. Yang berbeda adalah apa yang terjadi di anjungan kapal: siapa yang membaca radar lebih dulu, siapa yang memutuskan berbelok lebih cepat, dan siapa yang sudah menyiapkan kapalnya jauh sebelum awan hitam datang.
Dunia usaha dan pemerintahan hari ini hidup di laut seperti itu. Dalam enam tahun terakhir kita melewati pandemi, lonjakan inflasi, kenaikan suku bunga tercepat dalam beberapa dekade, perang di Eropa Timur dan Timur Tengah, serta babak baru perang dagang. Guncangan tidak lagi datang sesekali. Ia datang bertumpuk dan saling memperkuat.
Laut yang Makin Bergejolak
Risiko global kini bergerak lebih cepat, lebih besar, dan lebih saling terhubung dari sebelumnya. Global Risks Report 2026 dari World Economic Forum, yang disusun dari pandangan lebih dari 1.300 pemimpin dan pakar, menyebut dunia telah memasuki "era kompetisi". Temuannya patut menjadi alarm bagi setiap dewan direksi:
- Konfrontasi geoekonomi menjadi risiko nomor satu. Tarif, sanksi, dan kontrol ekspor kini dipakai sebagai senjata geopolitik. Risiko ini naik delapan peringkat pada horizon dua tahun, dan 18% responden menilainya sebagai pemicu krisis global paling mungkin tahun ini.
- Optimisme menipis tajam. Separuh responden memperkirakan dua tahun ke depan akan "bergejolak atau penuh badai", naik 14 poin persentase dari tahun sebelumnya. Hanya 1% yang memperkirakan kondisi tenang.
- Risiko ekonomi melonjak paling cepat. Risiko resesi dan inflasi masing-masing naik delapan peringkat.
- Tatanan dunia terfragmentasi. Sebanyak 68% responden memperkirakan tatanan global yang multipolar atau terpecah dalam satu dekade mendatang. Bagi Indonesia, ini bukan wacana jauh. Ia hadir sebagai volatilitas rupiah, fluktuasi harga komoditas, tekanan rantai pasok, dan tuntutan kepatuhan dari mitra dagang global. Ketidakpastian bukan lagi pengecualian. Ia adalah kondisi dasar.
Kapal yang Radarnya Dimatikan
Di tengah laut seperti ini, banyak organisasi masih berlayar dengan radar yang jarang dinyalakan. Selama bertahun-tahun, Governance, Risk & Compliance (GRC) diposisikan sebagai fungsi administratif: memenuhi kewajiban regulator, melengkapi dokumen audit, menjawab temuan pemeriksa. Karena tidak menghasilkan pendapatan, ia dianggap cost center: perlu ada, tetapi sebisa mungkin murah.
Paradigma ini meninggalkan tiga gejala yang mudah dikenali:
- Risk register sebagai formalitas. Diperbarui setahun sekali, disetujui, lalu disimpan. Jarang dibuka saat keputusan investasi atau ekspansi benar-benar diambil.
- Kepatuhan minimum sebagai target. Ukuran keberhasilan adalah "tidak ada temuan", bukan "keputusan menjadi lebih baik".
- Fungsi risiko yang terisolasi. Unit risiko masuk terlambat, setelah keputusan besar sudah diambil. Data global menunjukkan pola ini masih dominan. PwC Global Risk Survey 2023, yang melibatkan 3.910 pemimpin bisnis dan risiko di 67 negara, menemukan 27% organisasi masuk kategori Pragmatist. Tiga perempat dari kelompok ini memilih menghindari risiko ketimbang mencari peluang, dan 71% menjadikan kepatuhan regulasi sebagai prioritas utama. Organisasi pemerintahan dan layanan publik lebih banyak berada dalam kelompok ini.
Kesenjangan juga terlihat di tingkat pimpinan. Hanya sekitar seperlima eksekutif risiko yang menyatakan selera risikonya sejalan dengan CEO dan dewan. Dan meski sekitar separuh organisasi berinvestasi pada inisiatif ketahanan, hanya 7% yang melakukannya secara menyeluruh.
Masalahnya bukan kepatuhan itu sendiri. Kepatuhan tetap fondasi. Masalahnya, di laut yang bergerak secepat hari ini, kapal yang hanya mengejar standar minimum sedang menciptakan risiko baru: risiko tertinggal, risiko terlambat berbelok, dan risiko kehilangan peluang yang direbut pesaing.
Lalu, Apa yang Dilakukan Kapal yang Selamat?
Saat krisis keuangan global 2008, sekelompok kecil perusahaan justru melesat. Satu dekade kemudian, keunggulan imbal hasil mereka bagi pemegang saham melebar hingga lebih dari 150 poin persentase di atas pesaingnya. Mereka tidak lebih pandai meramal pasar. Mereka juga tidak lebih beruntung. Lalu apa yang mereka lakukan secara berbeda, dan mengapa itu mengubah cara kita memandang GRC? Kita bedah rahasianya di Bagian 2: "Rahasia 150 Poin: Cara Pemenang Krisis Mengambil Keputusan". Sumber: WEF Global Risks Report 2026 · PwC Global Risk Survey 2023