Bagian 2 路 Social

Paradoks 80/13: Ketika Mesin Melaju, Manusia Tertinggal
@eddy.berutu@mb-institut.co.id. Jumat, 2 Oktpober 2026. Seri Insight MBI Institut 路 AI di Ruang Rapat Dewan 路 Bagian 2 dari 3
Delapan dari sepuluh orang Indonesia sudah memakai AI, tetapi produktivitas baru naik 13%. Selisih itulah risiko sosial terbesar dekade ini, dan ia akan tercatat di laporan keberlanjutan Anda.
Di Bagian 1, kita melihat bagaimana AI masuk ke pilar Governance: akuntabilitasnya kini berujung di ruang rapat dewan. Bagian ini menelusuri sisi lain dari koin yang sama, yaitu pilar Social. Teknologinya sudah tiba. Pertanyaannya, apakah manusia di organisasi Anda ikut tiba?
Angka yang seharusnya membuat Dewan Direksi dan Komisaris gelisah
Indonesia mengadopsi AI dengan cepat, tetapi kemampuan manusianya tertinggal. Data berikut menunjukkan jaraknya.
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) menunjukkan penetrasi yang cukup tinggi, di mana sekitar 80% masyarakat dilaporkan sudah memakai AI dengan kontribusi terhadap kenaikan produktivitas mencapai sekitar 13% (Komdigi, via ANTARA). Namun, dari sisi pengembangan manusia, skor pilar SDM EV-DCI 2026 tercatat turun 2,5 poin dan menjadi satu-satunya pilar yang mengalami penurunan (Kompas), ditambah dengan ketimpangan yang cukup lebar yang ditunjukkan oleh selisih skor hampir 60 poin antara provinsi tertinggi dan terendah (Kompas). Selain itu, dari total angkatan kerja, baru sekitar separuh pekerja yang memiliki literasi digital dasar hingga menengah (Outlook Ketenagakerjaan 2026), padahal kebutuhan akan talenta digital diproyeksikan melonjak hingga sekitar 12 juta orang pada tahun 2030 (Komdigi, via Medcom).
Tiga risiko sosial yang sesungguhnya risiko bisnis
- Paradoks produktivitas: investasi tanpa imbal hasil. AI dipakai luas, tetapi nilai ekonominya belum terasa. Masalahnya bukan teknologi, melainkan kemampuan organisasi mengintegrasikannya ke proses kerja. Setiap rupiah lisensi AI tanpa perubahan cara kerja adalah biaya, bukan investasi.
- Tangga karier yang putus: krisis kepemimpinan sepuluh tahun lagi. Menurut PwC AI Jobs Barometer 2026, AI mulai mengambil alih pekerjaan rutin yang dulu menjadi tempat belajar pekerja muda. Sebaliknya, kebutuhan akan pengambilan keputusan, kepemimpinan, dan adaptabilitas naik lebih cepat. Perusahaan yang memangkas posisi junior tanpa rencana pengganti sedang menggerus pipa pemimpinnya sendiri.
- Kesenjangan pusat-daerah: risiko reputasi dan mandat publik. BUMN beroperasi dari Aceh hingga Papua, dengan mandat pemerataan. Program AI yang hanya berhasil di kantor pusat Jakarta akan memperlebar jarak, bukan menutupnya, dan itu bertentangan dengan alasan keberadaan BUMN itu sendiri.
Metrik baru dalam laporan keberlanjutan
Investor ESG akan menanyakan dampak sosial AI, cepat atau lambat. Korporasi yang siap akan mampu melaporkan setidaknya tiga hal:
- Kapabilitas: jam pelatihan AI per karyawan, dari staf hingga direksi.
- Transisi: rencana reskilling dan redeployment bagi peran yang terdampak otomatisasi.
- Pemerataan: akses program AI di kantor wilayah, bukan hanya di kantor pusat. Yang mampu mengukur, mampu mengelola. Yang tidak mengukur, akan diukur oleh orang lain.
Berikutnya di Bagian 3
Governance dan Social sudah dipetakan. Pertanyaan terakhir: apa yang harus dilakukan sekarang? Bagian 3 membahas regulasi AI Indonesia yang tinggal menunggu tanda tangan Presiden, dan lima langkah konkret bagi direksi dan komisaris dalam 12 bulan ke depan.
Siapkan pemimpin yang mampu membawa manusia melewati transisi
Teknologi bisa dibeli dalam sebulan. Pemimpin yang mampu mengelola perubahan butuh dibentuk. Program Leadership & Skills MBI Institut, yaitu Adaptive Leadership, Risk Culture, serta Gen-Z & Millennial Management, membantu para manajer memimpin tim lintas generasi di tengah perubahan cara kerja akibat AI.
Sumber
- ANTARA: Kemkomdigi sebut peraturan AI nasional untuk mendorong produktivitas
- Kompas: Talenta Digital Indonesia Belum Siap Kejar Laju AI (EV-DCI 2026)
- PwC Indonesia: AI Jobs Barometer 2026
- Industry.co.id: Outlook Ketenagakerjaan 2026
- Medcom: Kesenjangan Talenta Digital di Tengah Perkembangan AI
Tentang MBI Institut MBI Institut (PT Mutu Bangsa Indonesia) adalah lembaga pelatihan dan pengembangan kapabilitas bagi korporasi dan BUMN di bidang Governance, Risk & Compliance (GRC), manajemen risiko, kepemimpinan, serta sertifikasi mutu. Berakar dari Mutu Boga Institut, MBI Institut kini berfokus pada program in-house yang dirancang menurut profil risiko dan sektor setiap klien.
Portofolionya mencakup tiga lini: GRC & Risk Series (Enterprise Risk Management berbasis ISO 31000/COSO, Horizon Scanning, Compliance Management), Leadership & Skills (Risk Culture, Adaptive Leadership, Gen-Z & Millennial Management), dan Quality & Compliance (Sertifikasi HACCP, ISO 22000). Setiap program memadukan modul lengkap, fasilitator ahli, dan asesmen atau ujian sertifikasi.
Kunjungi kami dengan perjanjian di Gedung GP Plaza Lt. 5 Suite 26A, Jl. Slipi No. 1, Jakarta Pusat 10270 路 www.mb-institut.co.id 路 helo@mb-insitut.co.id 路 +6281161612826
Hubungi kami untuk merancang program in-house bagi tim kepemimpinan Anda di www.mb-institut.co.id, dan ikuti Bagian 3 tentang lima langkah konkret sebelum Perpres AI berlaku.