Kepercayaan sebagai Modal Ekonomi: ESG, GRC, dan Peran MBI Institut

Oct 3, 2026 ยท @DR. Eddy Keleng Ate Berutu
Pendahuluan: pasar sedang bertanya soal kepercayaan
Pertanyaan utama pasar hari ini adalah apakah pengelola uang, lembaga, dan perusahaan di Indonesia dapat dipercaya. Pertanyaan itu diarahkan sekaligus kepada pengelolaan keuangan negara, lembaga pemerintahan, BUMN, dan sektor swasta.
Tulisan ini berpendapat bahwa kepercayaan investor dibentuk oleh mutu tata kelola yang dapat diperiksa. GRC adalah cara organisasi membangun tata kelola itu, dan ESG adalah cara organisasi membuktikannya kepada pihak luar.
Dari sana peran MBI Institut menjadi jelas. Tata kelola dijalankan oleh orang, sehingga lembaga yang membangun kompetensi orang-orang itu ikut membangun kepercayaan.
Kepercayaan adalah modal yang punya harga
Kepercayaan menentukan berapa mahal sebuah negara dan perusahaan membayar modal. Investor yang ragu biasanya tetap bersedia masuk, tetapi meminta imbal hasil lebih tinggi sebagai kompensasi risiko.
Itulah yang terlihat sepanjang 2026. Pada 3 Juni IHSG turun 4,11% ke 5.941, dan esok paginya rupiah menembus Rp18.000 per dolar AS (CNN Indonesia). Pada 1 Oktober IHSG ditutup di 6.009,50 dan rupiah di Rp17.966 (Bisnis.com).
Empat bulan berlalu dan kedua angka itu nyaris tidak beranjak. Tekanan yang bertahan selama itu sulit dijelaskan oleh satu peristiwa atau oleh faktor global saja.
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi merumuskannya begini: peluang Indonesia tidak hilang, tetapi harga risikonya naik. Analis Ronny P menambahkan bahwa investor sudah punya cukup informasi, dan yang kurang adalah keyakinan.
Rantai sebab-akibatnya berjalan seperti ini:
- Tata kelola lemah atau tidak terlihat, sehingga investor sulit menilai risiko.
- Investor menaikkan premi risiko, sehingga imbal hasil obligasi dan bunga pinjaman naik.
- Biaya modal yang lebih tinggi membuat proyek yang semula layak menjadi tidak layak.
- Investasi tertunda, lalu pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja ikut tertahan. Karena itu kepercayaan layak diperlakukan sebagai modal ekonomi. Ia dibangun lama, dapat hilang cepat, dan kehilangannya dibayar oleh seluruh perekonomian.
Tiga lapis kepercayaan yang saling terkait
Investor menilai Indonesia pada tiga lapis sekaligus, dan keraguan pada satu lapis menular ke lapis lain.
-
Dalam aspek keuangan negara, pertanyaan utama investor adalah apakah defisit, utang, dan pembiayaan program prioritas tetap terkendali. Bukti yang perlu dicari adalah realisasi anggaran yang sejalan dengan asumsi serta arah kebijakan yang dapat diprediksi.
-
Pada aspek lembaga pemerintah dan BUMN, investor perlu menilai apakah keputusan diambil oleh pihak yang kompeten dan apakah mekanisme pengawasan berjalan dengan baik. Bukti yang dicari meliputi rekam jejak pelaksanaan, kepastian terhadap aturan, pengelolaan BUMN yang transparan, serta kualitas penerapan prinsip transparansi.
-
Sementara itu, pada sektor swasta, investor mempertanyakan apakah laporan keuangan dan keterbukaan informasi perusahaan dapat diandalkan. Bukti yang perlu diperhatikan mencakup mutu audit, perlakuan terhadap pemegang saham minoritas, serta kelengkapan dan keterbukaan pengungkapan risiko.
Perombakan kabinet 1 Oktober memperlihatkan cara pasar membaca lapis kedua. Menurut Andrey Wijaya dari RHB Sekuritas, investor menilai integritas pejabat, pemahaman sektor, rekam jejak pelaksanaan, dan kemampuan menjaga kepastian regulasi.
Ia juga mencatat bahwa nama yang dipercaya hanya menolong sentimen sesaat. Penguatan yang bertahan memerlukan bukti berupa kebijakan dan hasilnya.
BUMN berada di titik temu ketiga lapis itu. BUMN dimiliki negara, dijalankan sebagai korporasi, dan sebagian sahamnya diperdagangkan di bursa.
Konsolidasi di bawah Danantara mempertajam sorotan tersebut. Rencana bisnis MBI mencatat 1.074 entitas BUMN beserta anak dan cucu usaha, dengan target 250โ300 BUMN inti pada akhir 2026. Entitas yang tersisa akan dinilai lebih ketat, baik oleh pemilik maupun oleh pasar.
GRC: tempat kepercayaan dibangun di dalam organisasi
GRC menjawab tiga pertanyaan yang diajukan investor kepada setiap organisasi. Masing-masing unsur menjawab satu pertanyaan.
-
Dalam aspek governance, pertanyaan yang perlu dijawab adalah siapa yang memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan, siapa yang melakukan pengawasan, dan siapa yang bertanggung jawab atas keputusan tersebut. Dalam praktiknya, hal ini diwujudkan melalui pemisahan peran antara direksi dan komisaris, keberadaan komite audit, serta penerapan batas kewenangan dan jenjang pertanggungjawaban yang jelas.
-
Dalam aspek risk management, pertanyaan utamanya adalah apakah risiko telah dikenali dan dikelola sebelum berkembang menjadi kerugian. Dalam praktiknya, hal tersebut diwujudkan melalui penyusunan daftar risiko, penetapan risk appetite atau selera risiko, serta penerapan proses manajemen risiko yang mengacu pada kerangka seperti ISO 31000 atau COSO ERM.
-
Sementara itu, dalam aspek compliance, pertanyaan yang perlu dijawab adalah apakah organisasi telah menaati aturan yang berlaku dan apa konsekuensinya apabila terjadi pelanggaran. Dalam praktiknya, hal ini diwujudkan melalui fungsi kepatuhan, penyediaan saluran pelaporan pelanggaran (whistleblowing channel), serta penerapan sanksi yang konsisten dan benar-benar dijalankan terhadap setiap pelanggaran. Ketiganya harus bekerja sebagai satu sistem. Dewan yang kuat tanpa data risiko memutuskan dalam gelap, sedangkan unit risiko tanpa dukungan dewan hanya menghasilkan laporan.
GRC yang berjalan membuat organisasi dapat diprediksi. Investor tidak menuntut organisasi bebas masalah, tetapi ingin tahu bahwa masalah akan ditemukan, dilaporkan, dan ditangani.
GRC yang hanya ada di atas kertas lebih berbahaya daripada tidak punya GRC. Dokumen yang lengkap memberi rasa aman palsu, dan kepercayaan runtuh lebih keras ketika kegagalan akhirnya terbuka.
ESG: cara kepercayaan itu dibuktikan kepada pihak luar
ESG adalah kerangka yang dipakai investor untuk membaca mutu sebuah organisasi dari luar. Investor tidak dapat masuk ke ruang rapat direksi, sehingga mereka bergantung pada pengungkapan yang terstandar.
Dari tiga hurufnya, G adalah fondasi. Data lingkungan dan sosial hanya dapat dipercaya bila proses yang menghasilkannya diawasi dengan baik.
Di sinilah ESG dan GRC bertemu. Manajemen risiko memasok isi laporan ESG, kepatuhan menjamin laporan itu memenuhi aturan, dan tata kelola menjamin ada pihak yang bertanggung jawab atas kebenarannya.
Kewajibannya pun sudah ada. POJK 51/2017 mewajibkan lembaga jasa keuangan, emiten, dan perusahaan publik menyusun laporan keberlanjutan, dan standar global IFRS S1 dan S2 menuntut pengungkapan risiko yang lebih rinci.
ESG tanpa GRC menghasilkan greenwashing, yaitu laporan yang indah tanpa praktik yang menopangnya. Pasar makin cepat mengenali selisih antara laporan dan kenyataan, dan hukumannya berupa hilangnya kepercayaan.
Sebaliknya, GRC tanpa ESG membuat kerja baik di dalam organisasi tidak terlihat oleh pemilik modal. Organisasi memerlukan keduanya agar tata kelola yang baik berubah menjadi biaya modal yang lebih rendah.
Akar masalah: kerangka sudah ada, kapabilitasnya belum merata
Indonesia tidak kekurangan aturan dan kerangka tata kelola. Yang belum merata adalah kemampuan orang untuk menjalankannya dan budaya yang mendukungnya.
Kesenjangan itu muncul dalam tiga bentuk:
- Pengetahuan. Banyak pengambil keputusan mengenal istilah manajemen risiko tetapi belum mampu menerapkannya pada keputusan investasi, pengadaan, atau operasi.
- Budaya. Menyampaikan kabar buruk kepada atasan masih dianggap berisiko bagi karier, sehingga masalah baru terungkap setelah membesar.
- Kesinambungan. Pergantian pejabat dan restrukturisasi memutus ingatan organisasi, padahal tata kelola memerlukan kebiasaan yang bertahan lintas periode. Itu sebabnya krisis kepercayaan sering kali berakar pada krisis kapabilitas. Peningkatan mutu sumber daya manusia juga termasuk dalam reformasi struktural yang disarankan Ronny P untuk memulihkan keyakinan pasar.
Konsolidasi BUMN memperbesar kebutuhan ini. Entitas hasil penggabungan harus menyatukan kebijakan risiko, standar kepatuhan, dan budaya kerja dari beberapa organisasi dalam waktu singkat.
Peran MBI Institut: membangun kapabilitas di balik kepercayaan
MBI Institut berperan pada mata rantai yang paling jarang digarap, yaitu kemampuan orang yang menjalankan tata kelola. Portofolio programnya sudah menyentuh ketiga bentuk kesenjangan di atas.
Terdapat tiga lini program MBI yang masing-masing memiliki isi dan kesenjangan yang dijawab tersendiri.
- Pada lini program GRC & Risk Series, isi program mencakup Enterprise Risk Management (ISO 3100 / COSO), Horizon Scanning, dan Compliance Management. Kesenjangan yang dijawab oleh program ini berkaitan dengan aspek pengetahuan, yaitu mengubah kerangka menjadi keterampilan kerja.
- Pada lini program Leadership & Skills, isi program berfokus pada Risk Culture, Adaptive Leadership, serta manajemen Gen-Z dan milenial. Kesenjangan yang dijawab berkaitan dengan budaya dan kesinambungan, yaitu mencetak pemimpin yang membuka ruang bagi kabar buruk.
- Pada lini program Quality & Compliance, isi program meliputi Sertifikasi HACCP serta ISO 22000 Food Safety Management. Kesenjangan yang dijawab oleh program ini adalah membangun kepercayaan pada rantai pangan, yang dibuktikan lewat sertifikasi.
Perannya dapat dirumuskan dalam tiga fungsi:
- Penerjemah standar. MBI mengubah ISO 31000, COSO, dan aturan kepatuhan menjadi praktik yang sesuai dengan konteks BUMN.
- Pembentuk bahasa bersama. Pelatihan in-house membuat direksi, manajer, dan pelaksana di satu entitas memakai istilah dan ukuran risiko yang sama.
- Penyedia bukti. Sertifikasi dan asesmen memberi tanda yang dapat diperiksa pihak luar, dan tanda seperti itulah yang dibaca investor. Waktunya juga tepat. Rencana bisnis MBI menargetkan 4 kelas pada kuartal IV 2026 dan 14 kelas pada 2027, saat 250โ300 BUMN inti sedang menata ulang tata kelolanya.
Platform LMS yang dijadwalkan terbit pada kuartal IV 2027 dapat memperluas jangkauan itu. Pembelajaran digital memungkinkan penguatan berkala setelah kelas tatap muka selesai, sehingga kebiasaan baru lebih mungkin bertahan.
Batasan dan syarat agar peran itu nyata
Peran MBI nyata di tingkat lembaga klien dan belum di tingkat makro. Empat belas kelas pada 2027 setara dengan sekitar 4,7% dari potensi 300 program per tahun dalam rencana bisnisnya.
Kepercayaan pada keuangan negara terutama ditentukan oleh kredibilitas fiskal dan konsistensi kebijakan. Lembaga pelatihan tidak dapat menggantikan itu, dan klaim sebaliknya akan melemahkan kredibilitas MBI sendiri.
Ada empat syarat agar kontribusinya dapat dipertanggungjawabkan:
- Mengukur perubahan. Asesmen sebelum dan sesudah pelatihan, serta tindak lanjut tiga sampai enam bulan kemudian, menunjukkan apakah praktik kerja benar-benar berubah.
- Mendampingi penerapan. Kelas dua sampai tiga hari membuka pemahaman, sedangkan perubahan terjadi saat peserta menyusun daftar risiko dan kebijakan di unitnya sendiri.
- Menjaga mutu pengajar dan independensi sertifikasi. Sertifikat hanya bernilai sebagai bukti bila lulusnya tidak dapat dibeli dan pengajarnya berpengalaman nyata.
- Menerapkan GRC pada diri sendiri. Lembaga yang mengajarkan tata kelola akan dinilai dari tata kelolanya, termasuk dalam hubungannya dengan klien BUMN. Satu risiko perlu disebut terbuka. Pelatihan mudah menjadi formalitas untuk memenuhi daftar periksa, dan bila itu terjadi MBI ikut memproduksi GRC di atas kertas.
Penutup Kepercayaan pasar dibangun dari bawah, satu lembaga demi satu lembaga. Pernyataan pejabat dan pergantian nama dapat menenangkan pasar beberapa hari, sedangkan tata kelola yang terbukti menenangkannya bertahun-tahun.
GRC adalah cara membangun tata kelola itu, ESG adalah cara memperlihatkannya, dan kapabilitas manusia adalah syarat keduanya. MBI Institut bekerja pada syarat tersebut.
Kontribusi MBI pada perekonomian nasional karena itu bersifat tidak langsung tetapi dapat dilacak. Setiap BUMN yang lebih mampu mengelola risikonya menurunkan sedikit harga risiko Indonesia, dan penurunan kecil yang terkumpul itulah yang dicari investor. Sumber
- IHSG-Rupiah Kompak Ambruk, Alarm Krisis Kepercayaan Investor Menyala?, CNN Indonesia, 4 Juni 2026
- Membaca Arah IHSG & Rupiah Usai Prabowo Reshuffle Kabinet, Bisnis.com, 2 Oktober 2026
- Rencana Bisnis MB Institut Revisi 2026โ2027 dan lembar perhitungannya, untuk angka BUMN, target kelas, dan portofolio program
- Rujukan POJK 51/2017, IFRS S1 dan S2, ISO 31000, dan COSO ERM ditulis dari pengetahuan umum dan belum diperiksa ulang ke dokumen aslinya