Ketika Pasar Menguji Kepercayaan

Saat Pasar Bergejolak, Kepercayaan Adalah Modal
Di tengah gejolak pasar, tata kelola menjadi fondasi ketahanan dan kredibilitas korporasi.
Akar Masalahnya Adalah Kepercayaan
Sepanjang 2026, gejolak nilai tukar rupiah dan pasar modal menjadi perbincangan di banyak ruang rapat direksi. Grafik yang turun tajam memang mudah menarik perhatian. Namun di balik angka-angka itu, ada satu kata yang terus diulang para ekonom dan pengamat: kepercayaan.
Banyak analis menilai tekanan pasar tidak hanya bersumber dari ketidakpastian global. Faktor domestik, terutama persepsi investor terhadap kredibilitas pengelolaan fiskal, moneter, dan tata kelola pasar modal, dinilai ikut menentukan arah pasar. Pemerintah sendiri menegaskan bahwa fundamental ekonomi tetap kuat, dan perdebatan tentang hal ini wajar dalam sebuah demokrasi ekonomi.
Penulis tidak bermaksud masuk ke perdebatan tersebut. Yang menarik justru pelajarannya bagi dunia usaha: ketika kepercayaan menjadi mata uang utama pasar, setiap organisasi perlu bertanya seberapa kredibel dirinya di mata investor, regulator, dan mitra.
Pertanyaan yang Sama untuk Negara dan Korporasi
Investor menilai sebuah negara dengan logika yang tidak jauh berbeda dari cara mereka menilai sebuah perusahaan. Ada tiga pertanyaan dasar yang selalu diajukan.
- Apakah aturannya konsisten? Kebijakan yang berubah-ubah tanpa peta jalan yang jelas menambah premi risiko.
- Apakah risikonya dipahami dan dikelola? Investor tidak takut pada risiko, mereka takut pada risiko yang tidak terlihat.
- Apakah komitmennya bisa dipegang? Disiplin, transparansi, dan penegakan aturan adalah bukti, bukan janji. Ketiga pertanyaan itu sesungguhnya adalah inti dari Governance, Risk & Compliance (GRC). Dengan kata lain, apa yang sedang diuji pasar di tingkat negara adalah hal yang sama yang setiap hari diuji di tingkat korporasi.
Dari Makro ke Mikro: Kredibilitas sebagai Pembeda
Saat pasar bergejolak, modal tidak berhenti mengalir, tetapi menjadi jauh lebih selektif. Investor, perbankan, dan mitra strategis memilih organisasi yang tata kelolanya terbukti, risikonya terukur, dan laporannya dapat dipercaya. Volatilitas memisahkan organisasi yang sekadar besar dari organisasi yang benar-benar kredibel.
Bagi BUMN, tantangan ini semakin relevan. Konsolidasi besar-besaran di bawah Danantara menuntut tata kelola holding dan anak usaha yang lebih rapi, akuntabel, dan siap diperiksa standar investor global. Bagi korporasi swasta dan calon emiten, kredibilitas tata kelola menentukan biaya modal dan valuasi.
Bahkan pemerintah daerah dan BUMD tidak luput. Kepercayaan publik dan investor daerah bergantung pada kualitas pengelolaan anggaran dan kemampuan mengantisipasi risiko fiskal di wilayahnya.
Pelajaran dari Krisis: Kisah Dairi
Penulis pernah menghadapi dilema serupa dalam skala berbeda. Di awal masa jabatannya sebagai Bupati Dairi, pandemi COVID-19 datang tanpa peringatan. Dairi adalah daerah persimpangan, tempat arus barang dan orang dari berbagai wilayah bertemu.
Menutup total wilayah akan melumpuhkan ekonomi rakyat. Membukanya tanpa kendali akan membahayakan keselamatan warga. Kedua pilihan ekstrem itu sama-sama berisiko besar.
Pemerintah daerah memilih jalan ketiga: tetap terbuka dengan pengendalian ketat. Tim pemeriksaan, tim penanganan kesehatan, dan fasilitas karantina disiagakan di setiap pos masuk. Itulah manajemen risiko dalam praktik, bukan menghindari risiko, melainkan mengelolanya secara sadar, terukur, dan disiplin.
Pengalaman itu mengajarkan bahwa kepercayaan publik tidak lahir dari janji. Ia lahir dari sistem yang bekerja, dari keputusan yang konsisten, dan dari keberanian menjelaskan risiko secara terbuka.
GRC dan ESG: Infrastruktur Strategis, Bukan Formalitas
Selama ini, GRC kerap dipandang sebagai urusan administratif: dokumen kebijakan, laporan kepatuhan, dan daftar periksa audit. Pandangan itu tidak lagi memadai. Di tengah volatilitas, GRC adalah infrastruktur yang menentukan apakah sebuah organisasi layak dipercaya.
Hal yang sama berlaku untuk ESG. Bagi investor global, ESG bukan sekadar label hijau, melainkan cara membaca risiko jangka panjang: risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola yang dapat menggerus nilai perusahaan. Organisasi yang mampu mengungkapkannya secara jujur dan terukur akan lebih mudah mengakses pendanaan dan kemitraan.
Dengan kata lain, tata kelola adalah aset paling likuid di masa sulit. Ia dapat dikonversi menjadi kepercayaan, dan kepercayaan dapat dikonversi menjadi modal.
Lima Pilar Ketahanan Korporasi
Penulis melihat setidaknya lima pilar yang perlu diperkuat organisasi agar tetap kredibel di tengah ketidakpastian.
- Manajemen risiko yang menjangkau risiko makro. Kerangka ISO 31000 dan COSO perlu diperluas mencakup risiko kurs, suku bunga, dan likuiditas, dilengkapi scenario planning dan horizon scanning untuk membaca sinyal lebih awal.
- Tata kelola perusahaan yang akuntabel. Kejelasan peran direksi dan komisaris, pengendalian konflik kepentingan, serta tata kelola holding dan anak usaha yang rapi.
- Kepatuhan dan integritas. Budaya kepatuhan yang hidup, keterbukaan informasi yang tepat waktu, dan kesiapan menghadapi standar investor serta regulator.
- ESG dan keberlanjutan. Pengungkapan yang jujur dan terukur, diposisikan sebagai pintu akses pendanaan, bukan sekadar laporan tahunan.
- Kepemimpinan adaptif dan budaya sadar risiko. Pemimpin yang tenang mengambil keputusan di tengah krisis, didukung organisasi yang memandang risiko sebagai tanggung jawab bersama. Kelima pilar ini saling menguatkan. Sistem tanpa budaya akan menjadi formalitas, sementara budaya tanpa sistem akan sulit dibuktikan kepada pihak luar.
Kredibilitas Dimulai dari Manusia
Sistem tata kelola terbaik sekalipun hanya akan sekuat orang-orang yang menjalankannya. Karena itu, investasi pada kompetensi dan pola pikir para pengambil keputusan menjadi kunci. Pelatihan yang tepat mengubah GRC dari dokumen menjadi kebiasaan.
Atas dasar itulah MB Institut mengembangkan program pelatihan in-house bagi BUMN, korporasi, dan pemerintah daerah. Programnya mencakup Enterprise Risk Management (ISO 31000/COSO), Horizon Scanning, Compliance Management, Risk Culture, Adaptive Leadership, hingga pengelolaan generasi Z dan milenial di tempat kerja.
Prinsip yang sama juga diterapkan di sektor pangan melalui Sertifikasi HACCP dan ISO 22000. Di sektor mana pun, kepercayaan publik dibangun melalui standar yang dapat diverifikasi dan dijalankan secara konsisten.
Dibangun Sebelum Krisis, Bukan Saat Krisis
Kita tidak dapat mengendalikan arah pasar, tetapi setiap organisasi dapat mengendalikan kredibilitasnya sendiri. Organisasi yang tangguh tidak menunggu badai reda untuk berbenah. Mereka menjadikan masa volatil sebagai momentum memperkuat fondasi.
Ketika pasar pulih, dan sejarah menunjukkan pasar selalu menemukan jalannya untuk pulih, organisasi yang tata kelolanya terbukti akan menjadi yang pertama dipercaya. Pada akhirnya, ketahanan bangsa dibangun dari ketahanan setiap institusi di dalamnya.
Tentang Penulis
DR. Ir. Eddy Keleng Ate Berutu, MA, ChFC, CFP adalah Direktur dan pendiri MB Institut (PT Mutu Bangsa Indonesia), lembaga pelatihan Governance, Risk & Compliance, Leadership, serta sertifikasi mutu bagi BUMN, korporasi, dan pemerintah daerah. Ia menjabat Bupati Dairi, Sumatera Utara, periode 2018–2025, dan sebelumnya berkarier di industri jasa keuangan, antara lain di Prudential dan Bank Bali.
Saat ini ia aktif di KADIN Indonesia, menjadi anggota Dewan Pembina DPP GAMDI, dan memimpin Pengurus Provinsi PERCASI Sumatera Utara periode 2024–2028. Ia dapat dihubungi melalui mb-institut.co.id.