Risiko Tidak Menunggu Kita Siap

Satu keputusan dari masa itu tidak pernah saya lupakan. Dairi adalah daerah persimpangan: barang dan orang melintas setiap hari menuju dan dari wilayah-wilayah di sekitarnya. Pertanyaannya sederhana, tetapi jawabannya sangat berat: apakah kami menutup arus masuk untuk memutus rantai penularan?
Menutup berarti melindungi nyawa. Tetapi menutup juga berarti menghentikan pasokan, memukul pedagang, petani, dan pengangkut, serta memutus jalur yang menjadi nadi ekonomi daerah-daerah tetangga. Membuka berarti menjaga ekonomi tetap bernapas, dengan taruhan keselamatan masyarakat. Tidak ada pilihan yang bebas risiko, dan dampaknya tidak berhenti di batas wilayah kami.
Kami memutuskan untuk tetap membuka, dengan pengawasan yang ketat. Di setiap pos masuk kami menempatkan tim pemeriksa, tim penanganan pencegahan penyebaran dan kesehatan, serta fasilitas karantina. Arus barang dan orang tetap berjalan, tetapi tidak ada yang masuk tanpa melewati pemeriksaan.
Saat itu saya belum menyebutnya dengan istilah manajemen risiko. Kini saya tahu itulah intinya: pilihan kita jarang hanya dua, menghindari risiko atau menerimanya begitu saja. Ada jalan ketiga, yaitu mengendalikannya, dan jalan itu menuntut kerja yang jauh lebih berat daripada sekadar memasang portal penutup.
Tiga pelajaran dari persimpangan itu
Pertama, risiko harus punya pemilik. Dalam krisis, kalimat paling berbahaya adalah "itu bukan bagian saya." Setiap pos masuk punya penanggung jawab yang jelas, dan itulah yang membuat pengendalian berjalan.
Kedua, risiko tidak mengenal batas organisasi. Keputusan di satu daerah menjadi risiko bagi daerah lain. Hal yang sama berlaku antarunit, antaranak usaha, dan antarmitra dalam satu rantai pasok.
Ketiga, selera risiko harus disepakati sebelum badai datang. Seberapa jauh kita berani melangkah, dan demi apa? Menjawab pertanyaan itu di tengah krisis jauh lebih mahal daripada menjawabnya di masa tenang.
Pola yang sama di korporasi
Pola ini saya temui juga di dunia korporasi Indonesia. Organisasi jarang gagal karena kekurangan prosedur. Mereka gagal karena tidak ada yang merasa memiliki risikonya, dan karena informasi risiko berhenti di laporan, tidak pernah sampai ke ruang pengambilan keputusan.
Itulah sebabnya saya percaya Enterprise Risk Management adalah sebuah perjalanan, bukan daftar periksa. Kematangannya tidak diukur dari banyaknya proses, tetapi dari seberapa baik informasi risiko memperbaiki keputusan, memperkuat ketahanan, dan menjaga nilai organisasi.
Mengapa MB Institut
Rekam jejak itulah yang membuat saya begitu antusias pada topik ini. Bersama rekan-rekan di MB Institut, kami ingin membawa ERM berbasis ISO 31000 dan COSO keluar dari ruang kepatuhan dan masuk ke budaya kerja BUMN dan korporasi Indonesia: bahasa risiko yang jelas, kepemilikan yang tegas, dan keberanian memutuskan berdasarkan data.
Indonesia sedang menata ulang BUMN-nya menjadi lebih ramping dan lebih sehat. Momentum ini terlalu berharga bila hanya menghasilkan struktur baru tanpa cara berpikir baru tentang risiko.
Krisis berikutnya pasti datang, dan kita tidak tahu bentuknya. Yang bisa kita siapkan adalah organisasi yang terlatih mengambil keputusan ketika ia tiba.
Di mana posisi organisasi Anda dalam perjalanan itu hari ini?
#ManajemenRisiko #ERM #Kepemimpinan #BUMN #MBInstitut